Cegah Lansia Sakit Saat Menjalankan Ibadah Puasa

Facebooktwitterredditpinterestlinkedintumblrmail

Cegah Lansia Sakit Saat Menjalankan Ibadah Puasa

Berpuasa memang memerlukan energi yang tak sedikit. Tak jarang, Anda yang muda kerapkali merasa iba dan tak tega kalau melihat orang tua yang sudah lanjut usia (lansia) ikut berpuasa. Mereka yang lansia adalah pasien berusia 60 tahun ke atas dengan dua penyakit atau lebih bahkan memiliki sindrom geriatri.

Selain itu, pada lansia juga mengalami perubahan fisik yakni kapasitas fungsional yang mengalami penurunan mulai dari puncak ujung kepala sampai ujung kaki yang dimulai sejak usia 30 tahun.

Baca juga : Kurang Tidur Saat Bulan Ramadhan? Berikut Cara Tidur Pulas Saat Menjalankan Ibadah Puasa

Atur Pola Makan & Minum

Berikut cara mengatur pola makan dan minum agar lansia dapat menjalankan puasa dengan lancar :

  • Atur asupan kalori, 40 persen saat sahur, 50 persen saat berbuka, dan 10 persen saat sesudah tarawih.
  • Konsumsi cairan 30-50 cc/kg (8-10 gelas) untuk mencegah dehidrasi.

          2 gelas saat berbuka

          3 – 4 gelas saat setelah tarawih atau menjelang tidur

          1 gelas saat bangun tidur

          1 – 2 gelas saat sahur

  • Hindari es, karena dapat menahan rasa kenyang dan mengganggu tenggorokan.
  • Komposisi gizi harus seimbang. Batasi makanan tinggi lemak, teh/kopi, serta gula.
  • Sangat dianjurkan berbuka puasa dengan kurma; karena mengandung gula serat, karbohidrat, kalium, kalsium, natrium, fosfor, zat besi, dan magnesium.
  • Konsumsi vitamin dan mineral yang cukup.
  • Obat-obatan yang harus dikonsumsi diminum saat sahur dan berbuka. Sebelumnya, konsultasikanlah dengan dokter mengenai dosis.

Baca juga : 3 Mitos dan Fakta Puasa pada Lansia

Cegah Lansia Sakit Saat Menjalankan Ibadah Puasa

Berolahraga

Sesuaikan pilihan olahraga dengan kebutuhan dan kondisi tubuh. Bagi lansia perlu diperhatikan saat akan berolahraga. Beberapa jenis olahraga malam yang dianjurkan adalah jalan santai dan yoga. Hindari melakukan olahraga dengan intensitas yang terlalu berat. Selain itu lansia harus diberikan pendamping perawat lansia yang bisa menjaganya selama olahraga berlangsung.

Melakukan olahraga dengan intensitas tinggi dalam waktu lama bisa meningkatkan risiko cedera. Maka, penting untuk mengetahui batasan tubuh dalam berolahraga. Jika mengalami cidera, maka akan mengganggu aktivitas setiap hari. Untuk itu dibutuhkan penyembuhan bersama fisioterapi untuk mengatasi cedera.

Waktu terbaik untuk berolahraga saat puasa yaitu 1 jam sebelum berbuka atau setelah salat tarawih. Sebelum berolahraga, jangan lupa untuk pemanasan yang sangat penting untuk dilakukan. Ini karena pemanasan berperan untuk memberikan “sinyal” ke tubuh bahwa lansia sudah siap secara fisik dan mental untuk berolahraga. Sedangkan pendinginan berperan untuk memberikan “sinyal” ke tubuh bahwa lansia sudah selesai berolahraga dengan menurunkan ritme olahraga yang dilakukan. Untuk melakukannya, lansia hanya perlu menyediakan waktu selama 5-10 menit untuk peregangan tubuh dan jalan santai sebelum olahraga (pemanasan) dan setelah olahraga (pendinginan).

Jika Anda membutuhkan layanan kesehatan home care, segera konsultasikan perawatan kesehatan melalui telp (021) 2789 9963 atau Whatsapp di no 0811 1929 119 atau kunjungi website  www.mynurz.com. Banyak terdapat program perawatan home care seperti program perawatan pasca stroke, program perawatan kanker, program perawatan diabetes, program perawatan luka pasca operasi, program perawatan travel nurse dan program perawatan home visit.

MyNurz merupakan layanan kesehatan home care secara online untuk menyediakan perawat medis 24 jam, terapi fisik / fisioterapi, terapis okupasi dan terapis wicara yang bisa datang ke rumah. Dengan layanan rawat pasien di rumah, Anda merasa nyaman saat berkumpul di rumah dengan keluarga dan tetap mendapat perawatan dari jasa perawat homecare profesional. #BerkatDia

Facebooktwitterredditpinterestlinkedintumblrmail

You may also like...