DY Suharya, “Saatnya Tunjukkan Rasa Sayang Pada Orangtua” (Part 1)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Mari Peduli pada Alzheimer InfoMyNurz

Dahulu DY kerap ribut dengan ibunya. Ternyata ibunya ini mengidap gejala Alzheimer. Sejak dia merawat ibunda dan menjadi aktivis dalam bidang penyakit Alzheimer.

Hidup seseorang berjalan tanpa pernah tahu arah akan kemana membawa langkahnya. Setidaknya demikian terlihat dalam perjalanan hidup Kusumadewi Suharya akrab disapa DY yang berkecimpung dalam bidang penyakit dan gejala Alzheimer yang dikenal sebagai Founder Azheimer Indonesia dan Regional Director Asia Pacific Alzheimer’s Disease International.

Bila melihat hidupnya sekarang ini dibanding 10 tahun lalu, akan mendapati jejak berbeda. Bertemu dengan sosoknya adalah melihat satu pribadi penuh semangat, positif dan selalu menularkan virus peduli untuk orang lain terutama lansia.

Saat ini dengan gerak langkahnya  belakangan ini, dia menjadi sosok yang selalu menjadi inspirasi bagi  banyak orang untuk lebih peduli pada orangtua.

Ya, melihat perjalanan DY akan menilik satu jejak langkah yang begitu aktif. Dengan berbagai kegiatannya dia lebih menghabiskan waktunya di luar rumah. Memang dia termasuk sosok yang aktif di berbagai kegiatan dan organisasi.

Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, dia menjadi sosok yang mandiri dan aktif. Sejak remaja hingga kuliah, dia sudah sering ikut beragam aktivitas. Dia lebih banyak lagi menghabiskan waktunya di luar. Mulai dari motret, ikut band, hingga menjadi wartawan di Prambors Radio RCTI.Tak cukup sampai di situ diapun ‘terbang’ lebih jauh lagi ke luar negeri. Dia sempat bekerja di Soundwriters Inc yang menangani berbagai program Lonely Planet di New York, CNN Washington DC USA, dan bahkan pernah bergabung menjadi konsultan kesehatan di World Health Organization (WHO) Geneva, Swiss.

Konflik dengan Ibu Karena Alami Alzheimer

Ketika itu dia merasa tidak betah di rumah.Ada banyak hal yang membuatnya tidak nyaman dan ini bersumber dari ibunya.Beragam hal-hal kecil selalu menjadi konflik. Tanpa pernah dia sadari kalau ibunya (Tien Suhertini) menunjukkan  gejala-gejala penyakit Alzheimer. Penyakit Alzheimer adalah suatu penyakit yang menyerang saraf otak (neuro degenerative disease). Kondisi ini ditandai dengan  pikun atau penyakit mudah lupa, ketidakstabilan emosi dan beberapa fungsi otak yang menurun lainnya.

Pada tahun 2009 keluarga terkejut karena mendapati sang ibu terdiagnosis mengidap vascular demensia. “Karena sebelumnya saya dan keluarga melihat ibu sehat tidak ada masalah. Padahal dia sakit. Jadi penyebab saya dan keluarga selalu  ribut dengan ibu ya karena ibu sakit demensia sebagai bagian penyakit, gejala Alzheimer dan mengakibatkan volume otaknya mengecil. Kondisi ini membuatnya sangat depresi. Kalau ada beberapa hal yang tidak dapat disampaikan dengan kata-kata, maka diungkapkan dengan rasa marah.  Ibu saya selalu mengajak ribut setiap orang di rumah. Asisten Rumah Tangga tidak ada yang betah. Selalu ganti karena ibu selalu marah-marah yang membuat banyak ART kesal, bahkan dipecat dan jadi sering ribut, karena penyakit Alzheimer yang dideritanya” ungkap DY saat ditemui MyNurz di bilangan Jakarta Selatan.

Mendampingi Ibu yang Mengidap Alzheimer 

Mari Peduli Alzheimer InfoMyNurz

Akhirnya DY merantau selama 15 tahun ke 3 benua seperti USA, Australia dan Eropa, lalu pada 2012 dia kembali ke Tanah Air. Melihat kondisi ibunya, dia menjadi mempunyai amanat dari alam semesta untuk membantu ibu dan keluarga lainnya.

“Ternyata bila diselusuri sejak kecil saya itu sudah punya ‘rasa gimana gitu’ saat bertemu dengan eyang atau seseorang lanjut usia. Kalau mau ikuti insting I am always melting lihat lansia. Ada ‘getaran’ yang muncul dalam hatinya  begitu bertemu lansia. Hanya saja saya belum menyadarinya. Ternyata itu semacam panggilan untuk saya. Ketika berdamai dengan ibu, saya terpanggil untuk membantu orang dengan penyakit demensia, Alzheimer dan caregiver lainnya, “

Pengalaman DY membuatnya dia mendirikan Alzheimer Indonesia (ALZI) bersama berbagai sahabat yang peduli dengan isu yang sama. Sebuah organisasi non profit  untuk meningkatkan kualitas hidup orang-orang yang mengalami penyakit demensia atau penyakit Alzheimer, keluarga dan caregiver di Indonesia. ALZI dibentuk pada 3 Agustus 2013.

ALZI banyak mendapat dukungan dari Alzheimer Nederland, Pemda DKI, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, media, perusahaan swasta, komunitas sukarelawan, profesional termasuk neurologis, psikiater, geriatri, mahasiswa, dan lainnya. “ALZI berfokus pada advokasi, pelatihan, peningkatan kesadaran publik, edukasi, riset, dan lainnya,”  ujar DY sebagai founder Alzheimer Indonesia ini.

Aksi Peduli Alzheimer Ternyata Berpengaruh Luas

Tak pernah diduga lewat Alzheimer Indonesia (ALZI) kian besar dan memberi banyak pengaruh positif bagi banyak orang. ”Saya tidak pernah menduga sebelumnya kalau lewat ibu dan ALZI akan menjadikan saya hingga ke level ini. Untuk meningkatkan kualitas banyak orang, termasuk saya sendiri,” ungkap DY tersenyum.

Ketika berdamai dengan ibu, DY mulai belajar mengerti dan memahami kondisi ibunya. “Saya tidak lagi bermusuhan. Malah saya justru empati karena kondisi ibu sendiri pun susah dan dia tidak tahu apa yang dia lakukan. Tak terasa saya bersama ayah dan keluarga di rumah belajar banyak menjadi caregiver ibu di rumah.Saya menulis sebuah buku pengalaman membantu ibu dibantu sahabat saya Dian Purnama berjudul Ketika Ibu Melupakanku. “

DY  berupaya  dan berkomitmen untuk selalu merawat dan mendampingi ibu. “Ibu meninggal 21 April 2017 lalu. Satu hal saya belajar soal restu itu di bawah kaki ibu dan itu ternyata betul. Ya, ini pintu rezeki terbuka lebar, overwhelming it’s amazing I can make the best experience with my mom,” katanya sendu.

Ketika membantu ibu dan mendirikan ALZI DY tidak pernah menduga tentang ‘domino effect’ tentang apa yang lakukan. ALZI mendapat banyak dukungan baik dari Kementerian Kesehatan, Gubernur DKI Jakarta,  yang mendukung terwujudnya kota ramah demensia, Alzheimer dan ramah lansia.

“Apalagi ketika beberapa waktu lalu saya masuk acara Kick Andy mendapat sambutan positif dari masyarakat. Sekarang ada 15 komunitas caregiver  terbentuk di beberapa daerah seperti Depok, Malang, Surabaya, Yogyakarta, Solo, Salatiga dan kota-kota lainnya. Saya bilang saya belum memiliki dana untuk mereka, tetapi mereka tetap bertekad dan jalan sendiri dengan berbagai dukungan dari mitra pendukung ALZI dari berbagai sektor. Ternyata saya senang lewat ibu dapat lebih banyak menjangkau orang banyak,” tambahnya.

Setiap Sabtu  pertama bulan baru, Alzi mengadakan pertemuan dengan komunitas caregiver. “Awalnya diikuti 12 orang kini sudah 60 orang  pertemuan. Kami saling berbagi dan menceritakan berbagai pengalaman.  Kami punya grup caregiver di Whatsapps jadi kami bisa berbagi info,” katanya.

Bersambung ke artikel bagian ke dua tentang ajakan DY Suharya untuk lebih menyayangi orangtua.  DY Suharya, Founder Azheimer Indonesia dan Regional Director Asia Pacific Alzheimer’s Disease International “Saatnya Tunjukkan Rasa Sayang Pada Orangtua”(Part 2)

Bila Anda membutuhkan layanan  perawat, home care,  fisioterapis, terapis okupasi, dan terapis wicara berpengalaman dan profesional, hubungi MyNurz di 021-2205-7505 / 0811-1929-119 untuk mendapatkan informasi lengkap.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

You may also like...