Mengenal Penyakit Parkinson & Penyembuhannya

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Penyakit Parkinson dan pengobatannya

Apa itu penyakit Parkinson? Penyakit Parkinson (paralysis agitans) atau sindrom Parkinson (Parkinsonismus) merupakan suatu penyakit/sindrom karena gangguan pada ganglia basalis akibat penurunan atau tidak adanya pengiriman dopamine dari substansia nigra ke globus palidus/ neostriatum (striatal dopamine deficiency).
Dari beberapa sumber parkinsonism dapat didefenisikan sebagai berikut:

  1. Sindrom yang ditandai dengan adanya tremor waktu istirahat, rigiditas, bradikinesia dan hilangnya reflex postural akibat penurunan kadar dopamine oleh berbagai macam sebab. Disebut juga dengan sindrom Parkinson. (Sudoyo W, dkk, 2006)
  2. Parkinsonisme adalah gangguan yang paling sering melibatkan sistem ekstrapiramidal, dan beberapa penyebab lain. sangat banyak kasus besar yang tidak diketahui sebabnya atau bersifat idiopatik. parkinsonisme idiopatik mengarah pada penyakit parkinson atau agitasi paralisis. (Sylvia A. Prince, dkk, 2006)
  3. Parkinsonisme adalah suatu sindrom klinis berupa rigiditas (kekuatan), bradikinasia, tremor, dan instabilitas postur. (Williams F. Ganong, dkk, 2007).

Penyebaran Parkinson

Penyakit Parkinson terjadi di seluruh dunia, 5 – 10 % orang yang terjangkit penyakit parkinson, gejala awalnya muncul sebelum usia 40 tahun. Secara keseluruhan, pengaruh usia pada umumnya mencapai 1 % di seluruh dunia dan 1,6 % di Eropa, meningkat dari 0,6 % pada usia 60 – 64 tahun dan 3,5 % pada usia 85 – 89 tahun.

Di Indonesia dengan jumlah penduduk 210 juta orang, diperkirakan ada sekitar 200.000-400.000 penderita. Baik di luar negeri maupun di dalam negeri, lelaki lebih banyak terkena dibanding perempuan (3:2) dengan alasan yang belum diketahui.

Klasifikasi Penyakit Parkinson

Sindroma parkinson (parkinsonisme) dapat di klasifikasikan sebagai berikut: (Sudoyo W, dkk, 2006)

  1. Primer atau idiopatik atau paralysis agitans
  2. Penyebab tidak diketahui
  3. Ada peran toksik yang berasal dari lingkungan
  4. Ada peran faktor genetik, bersifat sporadis
  5. Sekunder atau akuisita
  6. Timbul setelah terpajan suatu penyakit/zat
  7. Infeksi dan pasca infeksi otak (ensefalitis)
  8. Terpapar kronis oleh toksin
  9. Sindroma parkinson plus, Gejala parkinson timbul bersama gejala neurologi lain seperti: Progressive Supraneural Palsy, Multiple System Atrophy, Cortical-Basal Ganglionic Degeneration, Parkinson-Dementia-ALS Compleks of Gunam, Progressive Palidal Atrophy, Diffuse Lewy Body Disease (DBLD)
  10. Kelainan Degeneratif diturunkan (heredodegenerative disorder), Gejala parkinsonism menyertai penyakit-penyakit yang diduga berhubungan dengan penyakit neurologi lain yang faktor keturunan memegang peranan peran sebagai etiologi.

Penyebab Penyakit Parkinson

  1. Usia, Insiden meningkat dari 10 per 10.000 penduduk pada usia 50 sampai 200 dari 10.000 penduduk pada usia 80 tahun. Hal ini berkaitan dengan reaksi mikrogilial yang mempengaruhi kerusakan neuronal
  2. Ras, di mana orang kulit putih lebih sering mendapat penyakit Parkinson daripada orang Asia dan Afrika.
  3. Lingkungan sekitar
  4. Xenobiotik, Berhubungan erat dengan paparan pestisida yang dapat menimbulkan kerusakan mitokondria
  5. Diet, Konsumsi lemak dan kalori tinggi meningkatkan stress oksidatif, salah satu mekanisme kerusakan neuronal pada penyakit Parkinson
  6. Trauma kepala, Cedera kranio serebral bisa menyebabkan penyakit parkinson, meski peranannya masih belum jelas benar
  7. Toksin, (seperti 1-methyl-4-phenyl-1,2,3,6-trihidroxypyridine (MPTP), CO, Mn, Mg, CS2, methanol, etanol dan sianida), penggunaan herbisida dan pestisida, serta jangkitan.
  8. Genetik, Sinuklein pada lengan panjang kromosom 4 (PARK1) pada pasien dengan Parkinsonism autosomal dominan. Pada pasien dengan autosomal resesif parkinson, ditemukan delesi dan mutasi point pada gen a Penelitian menunjukkan adanya mutasi genetik yang berperan pada penyakit parkinson. Yaitu mutasi pada gen  parkin (PARK2) di kromosom 6. Selain itu juga ditemukan adanya disfungsi mitokondria.

Secara umum dapat dikatakan bahwa penyakit Parkinson terjadi karena penurunan kadar dopamin akibat kematian neuron di pars kompakta substansia nigra sebesar 40 – 50% yang disertai adanya inklusi sitoplasmik eosinofilik (Lewy bodies). Lesi primer pada penyakit Parkinson adalah degenerasi sel saraf yang mengandung neuromelanin di dalam batang otak, khususnya di substansia nigra pars kompakta, yang menjadi terlihat pucat dengan mata telanjang. Dalam kondisi normal (fisiologik), pelepasan dopamin dari ujung saraf nigrostriatum akan merangsang reseptor D1 (eksitatorik) dan reseptor D2 (inhibitorik) yang berada di dendrit output neuron striatum. Output striatum disalurkan ke globus palidus segmen interna atau substansia nigra pars retikularis lewat 2 jalur yaitu jalur direk reseptor D1 dan jalur indirek berkaitan dengan reseptor D2 . Maka bila masukan direk dan indirek seimbang, maka tidak ada kelainan gerakan. (Robert Silitonga, 2007)

Pada penderita penyakit parkinson, terjadi degenerasi kerusakan substansia nigra pars kompakta dan saraf dopaminergik nigrostriatum sehingga tidak ada rangsangan terhadap reseptor D1 maupun D2. Gejala Penyakit Parkinson belum muncul sampai lebih dari 50% sel saraf dopaminergik rusak dan dopamin berkurang 80%. Reseptor D1 yang eksitatorik tidak terangsang sehingga jalur direk dengan neurotransmiter GABA (inhibitorik) tidak teraktifasi. Reseptor D2 yang inhibitorik tidak terangsang, sehingga jalur indirek dari putamen ke globus palidus segmen eksterna yang GABAergik tidak ada yang menghambat sehingga fungsi inhibitorik terhadap globus palidus segmen eksterna berlebihan. Fungsi inhibisi dari saraf GABAergik dari globus palidus segmen ekstena ke nucleus subtalamikus melemah dan kegiatan neuron nukleus subtalamikus meningkat akibat inhibisi. (Robert Silitonga, 2007)

Saraf eferen dari globus palidus segmen interna ke talamus adalah GABAnergik sehingga kegiatan talamus akan tertekan dan selanjutnya rangsangan dari talamus ke korteks lewat saraf glutamatergik akan menurun dan output korteks motorik ke neuron motorik medulla spinalis melemah terjadi hipokinesia. (Robert Silitonga, 2007)

Penanganan Medis

Penanganan medis dapat dilakukan dengan medikamentosa seperti:

  1. Antikolinergik untuk mengurangi transmisi kolinergik yang berlebihan ketika kekurangan dopamin.
  2. Levodopa, merupakan prekursor dopamine, dikombinasi dengan karbidopa, inhibitor dekarboksilat, untuk membantu pengurangan L-dopa di dalam darah dan memperbaiki otak.
  3. Bromokiptin, agonis dopamine yang mengaktifkan respons dopamine di dalam otak.
  4. Amantidin yang dapat meningkatkan pecahan dopamine di dalam otak.
  5. Menggunakan monoamine oksidase inhibitor seperti deprenil untuk menunda serangan ketidakmampuan dan kebutuhan terapi levodopa.
  6. Penanganan
  7. Deep Brain Stimulation (DBS)

Terapi Pembedahan

Pada saat on penderita dapat bergerak dengan mudah, terdapat perbaikan pada gejala tremor dan kekakuannya. Pada saat off penderita akan sangat sulit bergerak, tremor dan kekakuan tubuhnya meningkat. Periode off adakalanya muncul sejak awal pemberian levodopa dan tidak dapat diatasi dengan meningkatkan dosis, kejadian ini disebut “wearing off”. Pemakaian lama levodopa sering terkena efek samping obat berupa munculnya gejala diskinesia. Wearing off dan diskinesia yang terjadi pada penderita pp kadang-kadang tidak dapat dikontrol dengan terapi medika mentosa dan memerlukan terapi pembedahan. (Sudoyo W, dkk, 2006)

Ada beberapa tipe prosedur pembedahan yang dikerjakan untuk penderita PP, yaitu: (Sudoyo W, dkk, 2006)

  1. Teori Ablasi Lesi Di Otak
  2. Terapi Stimulasi Otak Dalam (Deep Barain Stimulation DBS)
  3. Transplantasi Otak (Brain Grafting).

Fisoterapi

  • Latihan fisik yang teratur, termasuk yoga, taichi, ataupun tari dapat bermanfaat dalam menjaga dan meningkatkan mobilitas, fleksibilitas, keseimbangan, dan range of motion. Latihan dasar selalu dianjurkan, seperti membawa tas, memakai dasi, mengunyah keras, dan memindahkan makanan di dalam mulut.
  • Manual Lymphatic Drainage dapat dilakuan untuk memperbaiki sel denga regenerasi sel
  • Hidroterai atau latihan di kolam renang juga bagus untuk menambah daya tahan jantung paru (Aerobik)

 

Kunjungi MyNurz.Com untuk menemukan Perawat Homecare (Perawat Orang Tua, Perawat Lansia, Perawat Orang Sakit), Fisioterapis, Terapis Wicara & Terapis Okupasi yang sesuai kebutuhan Anda. Atau hubungi customer service kami melalui, Tlp: (021) 3005-3676 | Mobile: 08118199119 | Email: Support@MyNurz.com.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

You may also like...