Mengenal Terapi Okupasi Lebih Jauh

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Beberapa orang tidak seberuntung kita, mereka tidak mampu berkegiatan secara normal. Namun, baik penyebab hal itu adalah keterbatasan fisik maupun mental, kondisi mereka bisa dibantu dengan menjadi pasien terapi okupasi—yang layanannya bisa disediakan oleh MyNurz Indonesia.

Ketika menjalani terapi okupasi, seorang pasien diarahkan untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih baik dan mandiri. Pertama-tama, terapis akan mengidentifikasi kondisi pasien: seberat apa kesulitan yang dihadapi pasien dalam berkegiatan, sekaligus menentukan apakah pasien benar-benar perlu menjalani terapi okupasi.

Biasanya, terapi okupasi diberikan kepada orang-orang dengan kriteria berikut ini.

  1.       Sedang menjalani pemulihan dari cedera;
  2.       Menderita penyakit kronis;
  3.       Menderita stroke, serangan jantung, cedera otak, atau amputasi;
  4.       Memiliki gangguan mental atau fisik sejak lahir; dan
  5.       Menderita gangguan mental dan perilaku (demensia, alzheimer, eating disorder, stres, dan sebagainya).

Terapi Okupasi Dimulai & Diakhiri Evaluasi

Jika salah satu dari keluarga kita memiliki satu saja dari kriteria yang tadi telah disebut, kita bisa mulai berkonsultasi dengan seorang terapis. Kalau ia dinilai perlu menjalani terapi okupasi, evaluasi akan dilakukan untuk menentukan ‘apa yang ingin dicapai setelah terapi’. Evaluasi itu melibatkan pasien, kita sebagai keluarga, dan terapis.

Setelah itu, terapis akan menyusun bentuk pendampingan dan pelatihan yang sesuai dengan tujuan meningkatkan kemampuan dalam melakukan sesuatu. Baik yang bersifat fisikal maupun mental, mulai dari menyusun puzzle dan menari…sampai latihan menali sepatu dan bersosialisasi.

Akhirnya, secara periodik, terapis akan menyusun laporan perkembangan dan evaluasi kembali dilakukan. Kita pun bisa melihat: adakah perkembangan yang ditunjukkan oleh anggota keluarga kita itu, sekaligus apakah masih perlu melanjutkan terapi okupasi.

Anak-Anak Juga Mungkin Perlu

Kondisi yang membuat seseorang disarankan menjalani terapi okupasi, bagaimanapun, juga bisa dimiliki oleh anak-anak. Karena itu, lumrah saja jika anak-anak menjalani terapi jenis ini. Namun, berikut ini adalah kondisi khusus yang membuat anak-anak semakin disarankan.

  • Sindrom Down

Seorang anak dengan kelainan genetik—yang membuat perkembangan fisiknya kurang normal—atau biasa disebut sindrom down disarankan menjalani terapi okupasi. Hal itu agar proses sosialisasi dan belajarnya tidak terganggu.

  • Spina Bifida

Spina bifida adalah cacat lahir yang mengganggu perkembangan tulang belakang dan saraf seorang anak. Keterbatasan motorik penderita spina bifida membuatnya disarankan menjalani terapi okupasi.

  • Cerebral Palsy

Kondisi anak lainnya yang disarankan untuk menjalani terapi okupasi disebut cerebral palsy. Kelainan itu bersifat neurologis, atau berkaitan dengan otak dan sistem saraf. Cerebral palsy membuat seorag anak memiliki gerakan yang kurang normal.

  • Gagal Belajar

Beberapa anak memiliki lahir dengan kemampuan berkomunikasi dan menerima informasi yang kurang. Kepada anak-anak tersebut juga disarankan untuk menerima terapi okupasi agar kondisinya membaik.

  • Dispraksia

Dispraksia juga berkaitan dengan kemampuan bergerak dan koordinasi yang kurang. Demi meningkatkan kualitas dirinya dalam berkegiatan sehari-hari, terapi okupasi menjadi salah satu perawatan yang sangat disarankan.

Terapi Okupasi Terbaik

Jika salah satu anggota keluarga kita memiliki kondisi yang membuatnya perlu menjalani terapi okupasi, kita tidak perlu repot-repot datang ke klinik atau rumah sakit. Kita bisa mengundang fisioterapis untuk datang ke rumah, hanya dengan membuat pemesanan lewat MyNurz Indonesia.

Caranya: kunjungi www.mynurz.com atau hubungi (021) 2205 7505 dan 0811 1929 119. [*]

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

You may also like...