Penyakit Bell’s Palsy & Pengobatannya

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Secara ilmiah Bell’s palsy adalah penyakit mononeuropati (gangguan hanya pada satu syaraf) yang menyerang syaraf kepala no.7 (syaraf fascialis) yang terjadi secara akut (cepat) dan penyebabnya tidak diketahui (idiopatik) tanpa disertai adanya penyakit neurologis (saraf) lainnya. Bell’s palsy ditemukan oleh Sir Charles Bell, seorang dokter berkebangsaan Skotlandia pada abad ke 19.

Gejala paling nyata dari Bells Palsy adalah otot – otot di satu sisi wajah terlihat miring. Bell’s palsy berbeda dengan stroke walau gejala kelumpuhannya mirip. Perbedaannya adalah kalau pada stroke maka justru otot di dahi tidak mengalami kelumpuhan. Bell’s palsy dapat menyerang umur berapapun tapi lebih sering terjadi pada umur 15-50 tahun. Wanita dan laki-laki memiliki kemungkinan yang sama untuk terserang Bell’s palsy. 63% menyerang wajah sebelah kanan. Sedangkan di Indonesia, insiden Bell’s palsy secara pasti sulit ditentukan. Data yang dikumpulkan dari 4 buah Rumah sakit di Indonesia didapatkan frekuensi Bell’s palsy sebesar 19,55 % dari seluruh kasus neuropati (kelumpuhan saraf) dan terbanyak pada usia 21 – 30 tahun. Lebih sering terjadi pada wanita daripada pria. Tidak didapati perbedaan insiden antara iklim panas maupun dingin, tetapi pada beberapa penderita didapatkan adanya riwayat terpapar udara dingin atau angin berlebihan.

Etiologi (penyebab penyakit) Bell’s palsy adalah penyakit autoimun, yaitu suatu keadaan dimana syistem imun menyerang tubuh kita sendiri. dalam hal ini, system imun menyerang nervus fasialis (saraf diwajah) sehingga menyebabkan kelumpuhan. Penyebab pasti autoimun tersebut masih belum diketahui (idiopatik). Akan tetapi, ada beberapa hal yang diduga sebagai faktor pencetus timbulnya Bell’s palsy.

  • Virus Herpes simplex. 60-70% kasus Bell’s palsy juga diikuti dengan hadirnya virus herpes simplex (Dr. Shingo Murakami et al). Beberapa virus lain juga diduga sebagai penyebabnya seperti cytomegalovirus, Epstein-Barr, rubella and mumps.
  • Kongenital. Bell’s palsy juga biasa nya terjadi karena bawaan lahir. Hal ini bisa disebabkan oleh karena trauma lahir (seperti perdarahan intracranial/perdarahan didalam kepala atau fraktur tengkorak/patah tulang tengkorak), terjadi pada saat proses kelahiran anak.
  • Riwayat terpapar udara dingin secara terus menerus. Kebanyakan penderita Bell’s palsy memiliki kesamaan riwayat, yaitu pernah terpapar udara dingin secara terus menerus. Misalnya karena terpapar udara dingin karena setiap malam naik motor atau terkena angin AC secara langsung secara terus menerus.

Gejala Klinik Awalnya biasanya terjadi kehilangan sensasi rasa pada lidah. Lidah terasa seperti ada yang menyelimuti. Pada anak 73% didahului infeksi saluran napas bagian atas yang erat hubungannya dengan cuaca dingin. Perasaan nyeri, pegal, linu dan rasa tidak enak pada telinga atau sekitarnya sering merupakan gejala awal yang segera diikuti oleh gejala kelumpuhan otot wajah berupa

  • Kelopak mata tidak dapat menutupi bola mata pada sisi yang lumpuh (lagophthalmos).
  • Gerakan bola mata pada sisi yang lumpuh lambat, disertai bola mata berputar ke atas bila memejamkan mata, fenomena ini disebut Bell’s sign
  • Sudut mulut tidak dapat diangkat, lipat nasolabialis mendatar pada sisi yang lumpuh dan mencong ke sisi yang sehat.

Pengobatan

  • Istirahat yang cukup. Seperti dikemukakan sebelumnya, 60-70% pencetus adalah virus, sementara virus bersifat self limiting disease (penyakit yang dapat sembuh sendiri jika kita memiliki system pertahanan tubuh yang baik).
  • Pemberian kortikosteroid. Dasar dari pengobatan ini adalah untuk menurunkan kemungkinan terjadinya kelumpuhan yang sifatnya permanen yang disebabkan oleh pembengkakan nervus fasialis (saraf wajah) di dalam kanal fasialis (jalurnya) yang sempit. Kortikostiroid juga bersifat immunosupresan sehingga bisa menekan kinerja system imun. Mekanisme ini sesuai dengan penyebab utama bell’s palsy yaitu autoimun.
  • Penggunaan obat- obat antivirus .Acyclovir Penggunaan Acyclovir akan berguna jika diberikan pada 3 hari pertama dari onset penyakit untuk mencegah replikasi viru (penggandaan virus).
  • Untuk perawatan mata dapat menggunakan air mata buatan atau menggunakan pelindung mata, seperti kacamata.
  • Fisioterapi dapat dianjurkan pada stadium akut. Tujuan fisioterapi untuk mempertahankan tonus otot yang lumpuh, menstimulasi saraf agar terjadi aktifasi otot dan latihan fungsional mengunyah, minum dan sebagainya. Tindakan Fisioterapi adalah dengan Lymphatic Drainage untuk meningkatkan imunitas dan mengabsorbsi bengkak yang menyebabkan terjepitnya saraf fasialis, latihan stimulasi otot dengan terapi latihan PNF dan pemberian kinesiotaping

Komplikasi

  • Crocodile tear phenomenon. Yaitu keluarnya air mata pada saat penderita makan makanan. Ini timbul beberapa bulan setelah terjadi paresis dan terjadinya akibat dari regenerasi yang salah dari serabut otonom yang seharusnya ke kelenjar saliva tetapi menuju ke kelenjar lakrimalis. Lokasi lesi di sekitar ganglion genikulatum.
  • Synkinesis Dalam hal ini otot-otot tidak dapat digerakkan satu per satu atau tersendiri. selalu timbul gerakan bersama. Misal bila pasien disuruh memejamkan mata, maka akan timbul gerakan (involunter) elevasi sudut mulut,kontraksi platisma, atau berkerutnya dahi. Penyebabnya adalah innervasi yang salah, serabut saraf yang mengalami regenerasi bersambung dengan serabut-serabut otot yang salah.
  • Tic Facialis sampai Hemifacial Spasme Timbul “kedutan” pada wajah (otot wajah bergerak secara spontan dan tidak terkendali) dan juga spasme otot wajah, biasanya ringan.Pada stadium awal hanya mengenai satu sisi wajah saja, tetapi kemudian dapat mengenai pada sisi lainnya. Kelelahan dan kelainan psikis dapat memperberat spasme ini. Komplikasi ini terjadi bila penyembuhan tidak sempurna, yang timbul dalam beberapa bulan atau 1-2 tahun kemudian.

Walaupun tanpa diberikan terapi, pasien Bell’s palsy cenderung memiliki prognosis yang baik. Dalam sebuah penelitian pada 1.011 penderita Bell’s palsy, 85% memperlihatkan tanda-tanda perbaikan pada minggu ketiga setelah onset penyakit. 15% kesembuhan terjadi pada 3-6 bulan kemudian. Sepertiga dari penderita Bell’s palsy dapat sembuh seperti sedia kala tanpa gejala sisa. 1/3 lainnya dapat sembuh tetapi dengan elastisitas otot yang tidak berfungsi dengan baik. Penderita seperti ini tidak memiliki kelainan yang nyata. 1/3 sisanya cacat seumur hidup. Penderita Bell’s palsy dapat sembuh total atau meninggalkan gejala sisa.

Pada umumnya prognosis Bell’s palsy baik: sekitar 80-90 % penderita sembuh dalam waktu 6 minggu sampai tiga bulan tanpa ada kecacatan. Penderita yang berumur 60 tahun atau lebih, mempunyai peluang 40% sembuh total dan beresiko tinggi meninggalkan gejala sisa. Jika tidak sembuh dalam waktu 4 bulan, maka penderita cenderung meninggalkan gejala sisa, yaitu sinkinesis, crocodile tears dan kadang spasme hemifasial. Penderita diabetes 30% lebih sering sembuh secara parsial dibanding penderita nondiabetik dan penderita DM lebih sering kambuh dibanding yang non DM. Hanya 23 % kasus Bells palsy yang mengenai kedua sisi wajah. Bell’s palsy kambuh pada 10-15 % penderita.

Kunjungi MyNurz.Com untuk menemukan Perawat Homecare (Perawat Orang Tua, Perawat Lansia, Perawat Orang Sakit), Fisioterapis, Terapis Wicara & Terapis Okupasi yang sesuai kebutuhan Anda. Atau hubungi customer service kami melalui, Tlp: (021) 3005-3676 | Mobile: 08118199119 | Email: Support@MyNurz.com.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

You may also like...