World TB Day 2018, Tetap Waspadai Risiko Infeksi Tuberkulosis

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

TB DAY 2018 Tetap Waspadai Risiko Infeksi Tuberkulosis

Peringatan Hari TB Sedunia diadakan setiap 24 Maret di seluruh dunia. World TB 2018 menjadi momen  dunia termasuk Indonesia untuk lebih mengampanyekan pemberantasan penyakit TB.

Peringatan Hari TB Sedunia pertama kali diselenggarakan  oleh WHO dan Kerajaan Belanda Tuberculosis Foundation tahun 1995 di Den Haag, Belanda. Hari TB Sedunia merupakan event tahunan setiap 24 Maret yang diselenggarakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat umum tentang penyakit epidemi itu berkulosis serta mendapatkan upaya untuk memberantas penyakit TB.

Hari TB Sedunia 2018, mengampanyekan agar pemerintah, departemen kesehatan dan profesional kesehatan terus menyerukan upaya global untuk menemukan, mengobati dan menyembuhkan TB dan mempercepat menuju tujuan mengakhiri TB pada tahun 2035.

Sejalan dengan peringatan hari TB Sedunia, belum lama ini  Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek, SpM(K) menyampaikan ketegasan komitmen pemerintah Indonesia untuk eliminasi TBC pada tahun 2030. Hal ini  disampaikan pada Pertemuan End TB  Summit dan SEARO High Level Leadership Meeting (HLLMon Ending TB yang diselenggarakan di New Delhi, India, tanggal 13-14 Maret  2018 lalu.

Berbicara mewakili negara-negara anggota WHO dari South East Asia Region (SEARO) pada pembukaan Nila Moeloek memaparkan bahwa pemerintah Indonesia telah menetapkan pencegahan dan pengendalian TBC sebagai prioritas Pembangunan Nasional 2015-2019 dengan 12 indikator yang dimonitor langsung oleh Presiden.

”Presiden memiliki komitmen politik yang kuat untuk eliminasi TBC pada tahun 2030 dan komitmen ini telah mendorong pendekatan multi-sektor. Hal tersebut merupakan fondasi yang sangat penting dalam mensukseskan target eliminasi TBC di Indonesia pada tahun 2030,” jelas Nila Moeloek.

Komitmen pemerintah telah diwujudkan dalam aksi nyata berupa penyediaan pendanaan penuh untuk eliminasi TBC, penguatan jejaring layanan pemerintah dan swasta berbasis kabupaten kota (distric based public-private mix) dan wajib melaporkan kasus TB (mandatory notification), jaminan kesehatan nasional untuk peningkatan kualitas pelayanan kesehatan kepada pasien TBC, pelaksanaan pendekatan keluarga dan masyarakat, pembentukan strategi kemitraan masyarakat dan swasta di daerah, serta pencarian aktif pasien TBC, dan pengembangan inovasi penelitian dan pengembangan kebijakan TBC.

Baca juga : Walker dan Alat Bantu Jalan, Mudahkan Lansia Berjalan dan Tak Jatuh

End TB Summit dan SEARO HLLM on Ending TB dibuka oleh Perdana Menteri India dan dihadiri oleh Dirjen WHO dan sejumlah Menteri Kesehatan anggota SEARO dari Bhutan, Bangladesh, India, Indonesia, Korea Utara, Maladewa, Myanmar, Nepal, Srilanka, Thailand, dan Timor Leste.

Hadir pula diundang para menteri kesehatan dari berbagai kawasan, antara lain Menteri Kesehatan Afrika Selatan, Nigeria, Tanzania, Zimbabwe, Kazakhstan dan Wakil Menteri Kesehatan Brasil. Pertemuan akan menghasilkan Joint Statement on Commitments for Implementation New Delhi Call for Actions on Ending TB 2030.

TB DAY 2018 Tetap Waspadai Risiko Infeksi Tuberkulosis
Pengobatan TB Harus Tuntas

Tubercolosis (TBC) merupakan penyakit menular yang banyak menyebabkan kematian di Indonesia. Pada  2016, terdapat 274 kasus kematian per hari di Indonesia akibat TB. Pada tahun yang sama, kasus TBC baru mencapai 1.020.000 pengidap. Angka itu menjadikan Indonesia berada di peringkat kedua kasus TBC terbanyak di dunia setelah India. Kemudian, disusul oleh China, Filipina, Pakistan, Nigeria, dan Afrika selatan.

TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan sebanyak 85 persen infeksi menyerang paru-paru. Namun begitu dapat menyerang ke jantung, ginjal, dan tulang. Pengidap TBC kebanyakan justru banyak menyerang pada usia produktif. Dengan demikian, masyarakat saat ini tetap harus tetap waspada pada risiko bahaya TB.

Gejala TBC pada paru ditandai durasi batuk berdahak lebih dari dua minggu. Bila bertambah parah pengidap TBC paru akan sesak napas. Umumnya juga pengidapnya bila batuk berlangsung lama akan disertai darah. Selain itu bakteri TB itu kalau menyerang tulang, akan timbul rasa nyeri seperti nyeri di pinggang. Selain itu tulang dapat menjadi bengkok.

Baca juga : 8 Tips Mudah Pulihkan Bicara Pasien Stroke

Pengobatan dan Resistensi TBC

Pengobatan TBC itu sebetulnya sederhana, hanya saja memang membutuhkan waktu lama mulai 6-9 bulan yang mesti dilakukan secara teratur.  Pengobatan TB menggunakan kombinasi antibiotik dari dokter.

Pengobatan TBC membutuhkan disiplin yang tinggi karena membutuhkan pengobatan 6 hingga 9 bulan tanpa henti.  Pada beberapa kasus tertentu pengobatan TBC bisa berlangsung menahun. Waktu yang panjang membuat pasien kerap mengalami rasa bosan, lelah, lupa, dan membuat pengobatan putus tengah jalan.

Ada dua tahap pengobatan TBC adalah tahap awal (intensif) dan lanjutan. Tahap awal ini sangat penting dilakukan pasien TB untuk menjalani melakukan pengobatan rutin agar tidak menjadi sumber penularan dalam waktu dua minggu. Umumnya sejak pengobatan tahap awal, bahaya dahak yang mengandung kuman TB hidup (BTA positif menjadi negatif).

TB DAY 2018 Tetap Waspadai Risiko Infeksi Tuberkulosis

Pada tahap lanjutan, jumlah dan dosis obat  menjadi lebih sedikit namun butuh waktu lebih lama. Tahap ini penting untuk menyingkirkan kuman yang resisten sehingga tidak ada kambuh atau resistensi.

Salah satu sifat bakteri penyebab M.tuberculosis merupakan jenis bakteri yang dapat bertahan dalam asam. Jadi bakteri yang masuk ke dalam tubuh bisa bertahan dalam tubuh dan kadang mereka seperti tidur (fase dorman). Kuman ini akan berada dalam tubuh tetapi tidak berkembang biak. Sementara pengobatan dengan antibiotik justru efektif pada bakteri aktif. Pada fase dorman ini menjadi penyebab terjadinya resistensi terhadap antibiotik.

Umumnya pada pasien TB yang teratur minum obat, maka pada minggu ke-8 kuman akan mati. Tetapi bisa juga terdapat kuman tidur dan sudah mengalami resistensi antibiotik dan tetap membutuhkan pengawasan dan pengobatan dokter. Pada tahap ini meskipun terlihat sudah sembuh, ada kemungkinan pasien TB dapat kambuh malah dengan kondisi kuman yang lebih kebal pada obat sebelumnya.

Solusi untuk hal ini,  adalah pengobatan kombinasi berbagai macam antibiotik yang berbeda kerjanya. Tujuan pengobatannya adalah untuk membunuh antibioltik untuk membunuh kuman aktif dan yang tidur dan sudah resisten.

fisioterapi

Mengingat pengobatan yang lama dan rumit, pasien TBC membutuhkan perhatian intensif untuk mencapai kesembuhan tuntas. Salah satu  cara sukses  pengobatan adalah dengan menggunakan jasa perawat MyNurz. Perawat MyNurz dapat membantu penyembuhan pasien TBC untuk tuntas dalama pengobatannya. Perawat MyNurz dapat mengatur dan mengawasi pemberian obat agar teratur dan tidak melewati waktu minum obat sehingga pengobatan berlangsung tuntas.

Anda dapat berkonsultasi dengan MyNurz untuk menanyakan kondisi kesehatan anggota keluarga Anda. MyNurz dapat menyediakan beragam program pengobatan yang dapat disesuaikan dengan kondisi penyakit kronis seperti program pemulihan stroke, program kondisi penyakit paru obstruktif konstruktif (PPOK), program pemulihan berjalan setelah operasi, dan lainnya.

MyNurz memudahkan Anda mencari perawat secara online dan Anda dapat memanfaatkan teknologi digital. Anda akan mendapatkan perawat dengan cepat, sesuai budget, perawat berpengalaman, memiliki Surat Tanda Registrasi -STR, dan waktu yang leluasa. Anda dapat mengunjungi website www.mynurz.com atau hubungi telepon (021) 2205 7505 dan 0811 1929 119 untuk mendapatkan beragam informasi layanan kesehatan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

You may also like...